DELUSI


Pada tahap skisofrenia yang akut, proses fikiran dan persepsi yang menyimpang disertai pula dengan berbagai delusi. Delusi yang paling umum adalah keyakinan bahwa kekuatan eksternal mencoba mengendalikan fikiran dan tindakan orang tersebut.
Delusi pengaruh ini meliputi pula keyakinan bahwa fikiran seseorang dipancarkan pada dunia sekitar sehingga orang-orang lain dapat mendengarnya, bahwa fikiran aneh tersebut (bukan fikiran orang itu sendiri) masuk benak orang tersebut, atau perasaan atau tindakan itu dibebankan pada orang tersebut karena kekuatan eksternal. Juga seringkali terdapat keyakinan bahwa orang atau kelompok tertentu mengancam atau diam-diam merencanakan melawan orang tersebut (delusi penganiyayaan). Yang kurang begitu umum ialah keyakinan bahwa orang tersebut sangat kuat dan penting (delusi kehebatan).
Seorang dengan delusi penganiyayaan disebut paranoid. Dia dapat mencurigai teman-teman atau keluarganya. Takut diracun, atau mengeluh selalu diintai, diikuti dan dibicarakan. Yang disebut dengan kejahatan “tidak bermotif” ialah bila seseorang menyerang atau membunuh orang tanpa sebab yang nyata, biasanya tindakan criminal semacam itu dilakukan oleh orang yang pada akhirnya didiagnosis menderita skisofrenia paranoid.
Halusinasi dapat terjadi sendiri atau merupakan bagian dari keyakinan delusi. Halusinasi auditorik – biasanya merupakan suara-suara yang menyatakan kepada orang tersebut apa yang harus dikerjakan atau menmgomentari tindakannya – merupakan hal yang paling umum. Halusinasi visual – misalnya melihat mahluk aneh atau malaikat – tidak begitu umum. Halusinasi sensorik lainnya (bau busuk yang keluar dari tubuh orang tersebut, rasa racun pada makanan, perasaan disentuh atau disuntik dengan jarum) tidak begitu sering.

 

Berikut ini adalah gangguan-gangguan yang termasuk ke dalam gangguan bahasa dan pikiran.

a. Delusi

Delusi merupakan suatu kepercayaan yang tidak berdasarkan pada realitas. Delusi biasanya muncul pada keadaan psikologis tertentu, seperti mania, depresi, overdosis obat-obatan dan paling banyak ditemukan pada kasus Skizofrenia. Banyak penderita Skizofrenia tidak menyadari bahwa individu lain mengetahui kepercayaan delusi mereka merupakan hal yang tidak mungkin terjadi. Berikut ini adalah bentuk-bentuk delusi.

b. Delusi Penyiksaan

Merupakan kepercayaan bahwa ia dimusuhi oleh suatu komplotan tertentu, dimata-matai, diancam, serta dianiaya.

c. Delusi Kontrol atau Pengaruh

Merupakan kepercayaan bahwa individu lain atau ada kekuatan lain yang mengontrol pemikiran, perasaan dan tindakannya. Ia percaya bahwa ada alat tertentu yang menghubungkan sinyal-sinyal tertentu ke dalam otaknya, sehingga individu lain mampu mengendalikannya.

d. Delusi Keterhubungan

Merupakan kepercayaan dimana ia berhubungan dengan sesuatu hal atau peristiwa tertentu, padahal sebenarnya ia tidak ada hubungannya sama sekali dengan hal atau peristiwa tersebut. Contohnya, penderita Skizofrenia mungkin berpikir bahwa kehidupan mereka diceritakan di televisi atau berita.

 

e. Delusi Kebesaran

Merupakan kepercayaan dimana ia merasa ia sangat terkenal dan ia adalah individu yang sangat berkuasa. Delusi seperti ini dapat berkembang menjadi delusi identitas, dimana suatu saat ia bisa saja mengatakan bahwa ia adalah Joan of Arc, Yesus dan lainnya.

f.  Delusi Rasa Bersalah dan Dosa

Merupakan kepercayaan bahwa ia telah melakukan suatu dosa yang tidak termaafkan dan ia telah mencelakai seseorang. Contohnya, penderita Skizofrenia dapat mengatakan bahwa ia telah membunuh anak-anaknya.

g.  Delusi Kesehatan (Hypochondriac)

Merupakan kepercayaan yang tidak berdasar bahwa ia menderita penyakit fisik yang mengerikan.

h. Delusi Nihilisme

Merupakan kepercayaan dimana ia dan semua orang di dunia telah lenyap. Pasiennya dapat mengatakan bahwa ia adalah roh yang telah kembali dari kematian.

Pada skizofrenia paranoid, sistem delusi hanyalah satu bagian dari kelompok abnormalitas yang dapat berfungsi secara independen dari bagian lain. Pada delusi, sistem delusi adalah pokok abnormalitas. Bahkan, pada beberapa kasus, sistem delusi adalah satu-satunya abnormalitas, pada aspek lain, orang tersebut terlihat cukup normal.

Pasien lain dapat menunjukkan gangguan suasaba hati, tetapi hanya sebagai konsekuensi dari sistem delusi (contoh: pasien akan marah besar terhadap orang asing hanya apabila mereka mencurigai orang asing tersebut memata-matainya atau menggoda pasangannya, dsb). Dapat dikatakan, apabila tidak ada delusi maka tidak akan ada abnormalitas.

Berikut ini adalah lima kategori delusi berdasarkan DSM-IV-TR.

1.      Tipe klasik dan yang paling umum adalah tipe penganiayaan, melibatkan kepercayaan bahwa seseorang diancam atau dianiaya oleh orang lain.

2.      Tipe “kebesaran”,  penderitanya percaya bahwa ia diberkahi oleh kekuatan atau pengetahuan yang luar biasa.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: