PEMERIKSAAN LABORATORIUM RUTIN (pada penyakit infeksi)

 

Dalam pemeriksaan penyakit infeksi di laboratorium, ada beberapa tahap yang dilakukan; antara lain: skrining, diagnosis (meliputi routine laboratory test, dan confirmatory lab.test), prognosis penyakit terhadap pemeriksaan dan melakukan monitoring ( lihat bagaimana disease activity dan bagaimana respon terhadap terapi yang diberikan).

Pemeriksaan laboratorium yang dilakukan untuk penyakit infeksi yaitu:

ROUTINE

  • HEMATOLOGI

Yaitu pemeriksaan blood cell count dan pemeriksaan laju endap darah (ESR). Pemeriksaan blood cell count meliputi pemeriksaan  pemeriksaan konsentrasi hemoglobin, Periksaan Sel Darah Putih (WBC), Platelet time, white blood cell differential count, red blood cell count dan hitung hematokrit.Pada penyakit anemia kronik, ditemukan penurunan kadar Hb.

Hitung sel darah putih dilakukan untuk menghitung jumlah total sel daarah putih tersebut, yang dilakukan  baik secara manual maupun otomatis. Prinsipnya, mendilusikan darah dengan larutan asam untuk melisiskan eritrosit. Pada penyakit leukositosis, dengan WBC >11.0 (x 109/L), biasanya disebabkan karena infeksi bakteri. Pada Leukopenia, dengan WBC < 4.0 (x109/L), biasanya disebabkan oleh infeksi virus.

WBC differential count dilakukan untuk menghitung jumlah relative dan setiap jenis sel darah putih yang terdapat dalam darah. Pada blood smear, dapat ditemukan jumlah relative, leukosit imatur dan dapat melihat morfologi abnormal dari tiap jenis sel darah putih. Abnormalitas yang ditemukan dapat secara kuantitatif maupun kualitatif. Jenis leukosit yaitu:

Granulocyte                                                                     Non-granulocyte

Netrofil,                                                                                 Monosit

Eosinofil,                                                                               Limfosit

Basofil

Polimorfonuclear                                                           Mononuclear

Netrofil,                                                                                     Monosit

Eosinofil,                                                                                   Limfosit

Basofil

Phagocyte                                                                  Immunocyte

Netrofil                                                                           Limfosit

Monosit

 

Neutrofilia disebabkan oleh 3 penyebab utama yaitu infeksi, inflamasi, dan maglinansi. Keparahan penyakit neutrofilia dipengaruhi oleh virulensi organism, umur ( pada anak2 lebih besar), dan keadaan imun pasien. Neutrofilia sendiri disebabkan oleh: infeksi bacterial, agen toksik, metabolic (uremia, eklamsia, asidosis metabolic), obat-obatan dan bahan kimia ( merkuri, digitalis, steroid), stimulus fisik dan emosional, kerusakan jaringan dan nekrosis ( misalnya pada myocardiac infark, luka, penyakt neoplastik), perdarahan (khususnya pada kavitas intraserosa – peritoneal, pleural, sendi, subdural-), dan penyakit hematologi (leukemia).

Qualitative Abnormality pada hitung jenis lukosit, dilakukan perhitungan jenis dimulai dengan MYELOBLAST – PROMYELOCYTE – MYELOCYTE – METAMYELOCYTE – BATANG – SEGMEN, dengan keterangan: shift 2 d’left ( yaitu pada peningkatan sel imatur, dan merujuk pada infeksi bakteri akut), dan shift 2d’right ( yaitu terjadi peningkatan segmen /hipersegmentasi, dan merujuk pada infeksi kronik).

 

Pemeriksaan Laju endap darah ( ESR ) yaitu kecepatan laju pengendapan darah dalam satu jam ( di hitung dalam satuan  millimeter). Pemeriksaan ini dilakukan terhadap penyakit inflamatori. Normalnya 0-20 mm/jam pada wanita dan 0-15mm/jam pada pria. Peningkatan laju endap darah mengindikasikan infeksi bakteri.

 

  • URINALIS

Dilakukan dengan Pemeriksaan Fisik (meliputi pemeriksaan warna, kekeruhan, berat jenis, volume, odo, maupun clarity), Pemeriksaan Kimiawi (meliputi pemeriksaan Specific gravity, pH, Blood, Leukocyte esterase, Nitrit, Protein, Glucose, Ketones, Bilirubin & Urobilinogen ), dan Pemeriksaan Mikroskopik (White blood cells,  Red Blood Cells,  Epithelial cells, Crystal,  Bacteria).

 

  • FECAL EXAMINATION

Meliputi beberapa pemeriksaan antara lain:

–       Pemeriksaan Makroskopik; yaitu pemeriksaan terhdap warna, konsistensi dan bentuk, serta mucus. Feses normal berwarna kecoklatan karena dipengaruhi oleh pigmen bile. Feses yang berwarna orange-coklat mengindikasikan adanya bakteriuria anawrobik pada intestinal. Pada feses normal tidak ditemukan mucus, kecuali pada adenoma vilosa, colitis, TB intestine, inflamasi rectal, dll.

–       Microscopic examination; yaitup pemeriksaan feses di bawah mikroskop untuk melihat adanya cyst, tropozoit, telur parasit, maupun telur cacing. Pemeriksaan ini juga dilakukan untuk melihat leukosit dalam feses. Jika dalam feses ditemukan lemak >6 gr/d mengindikasikan terjadinya malabsorpsi atau maldigesti lemak.

  • CHEMICAL EXAMINATION; yaitu pemeriksaan darah dalam feses ( melihat perdarahan pada intestinal )

 

SERO-IMMUNOLOGY TESTS

Prinsipnya yaitu  reaksi antara antigen dan antibodi

1. Antigen Identification

misalnya: HBsAg

2. Antibody measurement

misalnya: Anti HBs

 

MICROBIOLOGIC EXAMINATION

Yaitu mengidentifikasi mikroorganisme dengan cara:

1. Direct staining: melihat jamur  +/-, bacteria dll.

2. culture of bacteria & fungi.  Sensitif terhadap antibiotic.

3. Polymerase chain reaction yaitu untuk mendeteksi DNA/ RNA mikroorganisme.

 

DEMAM TIFOID ( thypoid fever )


Demam tifoid atau typhus abdominalis adalah suatu infeksi akut yang terjadi pada usus kecil yang disebabkan oleh kuman Salmonella typhi. Di Indonesia penderita demam tifoid cukup banyak diperkirakan 800 /100.000 penduduk per tahun dan tersebar di mana-mana. Ditemukan hampir sepanjang tahun, tetapi terutama pada musim panas. Demam tifoid dapat ditemukan pada semua umur, tetapi yang paling sering pada anak besar,umur 5- 9 tahun dan laki-laki lebih banyak dari perempuan dengan perbandingan 2-3 : 1.

GAMBARAN KLINIK

Pada demam tifoid/tipes ini, ada beberapa masa ketika kuman masuk ke dalam tubuh penderita. Di antaranya:

Masa Inkubasi (saat pertama kuman masuk dan tidur sebentar)
Masa inkubasi dapat berlangsung 7-21 hari, walaupun pada umumnya adalah 10-12 hari. Pada awal penyakit keluhan dan gejala penyakit tidaklah khas, berupa :

* ~ anoreksia (ngga nafsu makan)
* ~ rasa malas
* ~ sakit kepala bagian depan
* ~ nyeri otot
* ~ lidah kotor
* ~ gangguan perut (perut meragam dan sakit)

Gejala Khas dari demam ini?

Biasanya jika gejala khas itu yang tampak, diagnosis kerja pun bisa langsung ditegakkan. Yang termasuk gejala khas Demam tifoid adalah sebagai berikut.

~Minggu Pertama (awal terinfeksi)

Setelah melewati masa inkubasi 10-14 hari, gejala penyakit itu pada awalnya sama dengan penyakit infeksi akut yang lain, seperti demam tinggi yang berpanjangan yaitu setinggi 39ºc hingga 40ºc, sakit kepala, pusing, pegal-pegal, anoreksia, mual, muntah, batuk, dengan nadi antara 80-100 kali permenit, denyut lemah, pernapasan semakin cepat dengan gambaran bronkitis kataral, perut kembung dan merasa tak enak,sedangkan diare dan sembelit silih berganti.

Pada akhir minggu pertama,diare lebih sering terjadi. Khas lidah pada penderita adalah kotor di tengah, tepi dan ujung merah serta bergetar atau tremor. Episteksis dapat dialami oleh penderita sedangkan tenggorokan terasa kering dan beradang. Jika penderita ke dokter pada periode tersebut, akan menemukan demam dengan gejala-gejala di atas yang bisa saja terjadi pada penyakit-penyakit lain juga.

Ruam kulit (rash) umumnya terjadi pada hari ketujuh dan terbatas pada abdomen disalah satu sisi dan tidak merata, bercak-bercak ros (roseola) berlangsung 3-5 hari, kemudian hilang dengan sempurna. Roseola terjadi terutama pada penderita golongan kulit putih yaitu berupa makula merah tua ukuran 2-4 mm, berkelompok, timbul paling sering pada kulit perut, lengan atas atau dada bagian bawah, kelihatan memucat bila ditekan. Pada infeksi yang berat, purpura kulit yang difus dapat dijumpai. Limpa menjadi teraba dan abdomen mengalami distensi.

~ Minggu Kedua

Jika pada minggu pertama, suhu tubuh berangsur-angsur meningkat setiap hari, yang biasanya menurun pada pagi hari kemudian meningkat pada sore atau malam hari. Karena itu, pada minggu kedua suhu tubuh penderita terus menerus dalam keadaan tinggi (demam). Suhu badan yang tinggi, dengan penurunan sedikit pada pagi hari berlangsung. Terjadi perlambatan relatif nadi penderita. Yang semestinya nadi meningkat bersama dengan peningkatan suhu, saat ini relatif nadi lebih lambat dibandingkan peningkatan suhu tubuh.

Gejala toksemia (ketika kuman sudah masuhk aliran darah) semakin berat yang ditandai dengan keadaan penderita yang mengalami delirium. Gangguan pendengaran umumnya terjadi. Lidah tampak kering,merah mengkilat. Nadi semakin cepat sedangkan tekanan darah menurun, sedangkan diare menjadi lebih sering yang kadang-kadang berwarna gelap akibat terjadi perdarahan. Pembesaran hati dan limpa. Perut kembung dan sering berbunyi. Gangguan kesadaran. Mengantuk terus menerus, mulai kacau jika berkomunikasi dan lain-lain.

~ Minggu Ketiga

Suhu tubuh berangsung-angsur turun dan normal kembali di akhir minggu. Hal itu jika terjadi tanpa komplikasi atau berhasil diobati. Bila keadaan membaik, gejala-gejala akan berkurang dan temperatur mulai turun. Meskipun demikian justru pada saat ini komplikasi perdarahan dan perforasi cenderung untuk terjadi, akibat lepasnya kerak dari ulkus. Sebaliknya jika keadaan makin memburuk, dimana toksemia memberat dengan terjadinya tanda-tanda khas berupa delirium atau stupor,otot-otot bergerak terus, inkontinensia alvi dan inkontinensia urin.

Meteorisme dan timpani masih terjadi, juga tekanan abdomen sangat meningkat diikuti dengan nyeri perut. Penderita kemudian mengalami kolaps. Jika denyut nadi sangat meningkat disertai oleh peritonitis lokal maupun umum, maka hal ini menunjukkan telah terjadinya perforasi usus sedangkan keringat dingin,gelisah,sukar bernapas dan kolaps dari nadi yang teraba denyutnya memberi gambaran adanya perdarahan. Degenerasi miokardial toksik merupakan penyebab umum dari terjadinya kematian penderita demam tifoid pada minggu ketiga.

~ Minggu keempat

Merupakan stadium penyembuhan meskipun pada awal minggu ini dapat dijumpai adanya pneumonia lobar atau tromboflebitis vena femoralis.

Relaps

Pada mereka yang mendapatkan infeksi ringan dengan demikian juga hanya menghasilkan kekebalan yang lemah,kekambuhan dapat terjadi dan berlangsung dalam waktu yang pendek.Kekambuhan dapat lebih ringan dari serangan primer tetapi dapat menimbulkan gejala lebih berat daripada infeksi primer tersebut.Sepuluh persen dari demam tifoid yang tidak diobati akan mengakibatkan timbulnya relaps.

LANGKAH DIAGNOSTIK

1.      Anamesis

2.      Tanda klinik

3.      Laboratorik

a.       Leukopenia, anesonofilia

b.      Kultur empedu (+) : darah pada minggu I ( pada minggu II mungkin sudah negatif); tinja minggu II, air kemih minggu III

c.       Reaksi widal (+) : titer > 1/200. Biasanya baru positif pada minggu II, pada stadium rekonvalescen titer makin meninggi

d.      Identifikasi antigen : Elisa, PCR. IgM S typphi dengan Tubex TF cukup akurat dengan

e.       Identifikasi antibodi : Elisa, typhi dot dan typhi dot M

PATOFISIOLOGI

Setelah melalui asam lambung, Salmonella typhosa menembus ileum ditangkap oleh sel mononuklear, disusul bakteriemi I. Setelah berkembang biak di RES, terjadilah bakteriemi II

Interaksi Salmonella dengan makrofag memunculkan mediator-mediator. Lokal (patch of payer) terjadi hiperplasi, nekrosis dan ulkus. Sistemik timbul gejala panas, instabilitas vaskuler, inisiasi sistem beku darah, depresi sumsum tulang dll

Imunulogi. Humoral lokal, di usus diproduksi IgA sekretorik yang berfungsi mencegah melekatnya salmonella pada mukosa usus. Humoral sistemik, diproduksi IgM dan IgG untuk memudahkan fagositosis Salmonella oleh makrofag. Seluler berfungsi untuk membunuh Salmonalla intraseluler

[just for fun] ISTRI CANTIK vs ISTRI JELEK

kalo istri cantik kebelet minta dibeliin mobil baru
suami bilang: sabar ya sayang, nabung dulu… apa sih yang nggak aku beri buat kamu…
kalo istri jelek kebelet minta dibeliin mobil baru
suami bilang: kamu tuh… ga tau apa cari duit susah, minta aneh2 lagi

kalo istri cantik lagi hamil tua lewat depan suami
suami bilang: sayang… wanita itu kalu sedang hamil justru sexy lho
kalo istri jelek lagi hamil tua lewat depan suami
suami bilang: weleh… gentong jalan, ngapain sih mondar mandir aje

kalo istri cantik ga mau nyuci pakaian
suami bilang: ahhh kan ada pembantu dan mesin cuci, lagian ntar tangan kamu jadi kasar lho…
kalo istri jelek ga mau nyuci pakaian
suami bilang: dasar sok… timbang nyuci pakaian aja ga mau… (sambil geleng2 kepala)

kalo istri cantik lagi ngambek dan cemberut
suami bilang: kamu biar cemberut gitu tetep keliatan manis kok yang…
kalo istri jelek lagi ngambek dan cemberut
suami bilang: muka dari tadi dilipet ga dilipet juga sama aja…

kalo istri cantik lupa bangunin suami untuk kerja
suami bilang: kamu tidurnya nyenyak banget ya semalam, ga pa pa kok sekali2 aku telat kekantor…
kalo istri jelek lupa bangunin suami untuk kerja
suami bilang: Tidur apa pingsan… aku bakal kena marah boss nih gara2 kamu…

kalo istri cantik dandan pake make up mahal
suami bilang: kamu tambah cantik deh… I Love You
kalo istri jelek dandan pake make up mahal
suami bilang: dasar BUBOR… Ibu-ibu Boros…!

kalo istri cantik kentut
suami bilang: ga papa sayang… kl kentut di tahan2 bikin penyakit lho…
kalo istri jelek kentut
Suami bilang: bau tau ga…! ga ada sopan santunnya sama sekali

kalo istri cantik ngajak plesiran ke Bali
suami bilang: Bali is beautiful place
Kalo istri jelek ngajak plesir ke bali
suami bilang: alah… ancol aja kenapa yang deket!!!

kalo istri cantik lagi sakit
suami bilang: Sebentar lagi juga sembuh… kamu banyak istirahat ya
kalo istri jelek lagi sakit
suami bilang: wah… jangan2 bentar lagi nih… namanya juga umur

kalo istri cantik pulang kerja lembur sampe malam
suami bilang: kamu pasti lelah sekali malam ini…
kalo istri jelek pulang kerja sampe malam
suami bilang: Ngapain sih ngelembur2 segala sampe lupa masakin suami

kalo istri cantik udah bbrp kali melahirkan
suami bilang: ikutan senam di gym aja biar tetap bugar dan km tetap cantik
kalo istri jelek udah bbrp kali melahirkan
suami bilang: Tuh badan melar semua… ikutan senam sana tiap minggu pagi
di halaman PUSKESMAS…

 

 

GANGGUAN MAKAN PADA ANAK DAN REMAJA

Gangguan makan merupakan penyakit kompleks yang mengenai anak dan remaja. Berdasarkan DSM IV ada tiga bentuk gangguan makan yaitu: anoreksia nervosa (AN), bulimia nervosa (BN) dan gangguan makan yang tidak tergolongkan. Gangguan tersebut dapat menyebabkan morbiditas biologik, psikologik dan sosial, serta kematian.

Penyebab gangguan makan belum diketahui dengan jelas, namun diduga terkait dengan berbagai faktor biologik, genetik dan psikososial. Mengingat kompleksnya aspekaspek biopsikososial kelainan ini maka diperlukan tim yang profesional dalam penanganannya, yang melibatkan dokter, perawat, ahli gizi dan kesehatan jiwa. BN memiliki prognosis yang lebih baik dari pada AN. Pencegahan dilakukan melalui program pencegahan primer dan sekunder.

Sistem klasifikasi psikiatrik (ICD-10 dan DSM –IV) membedakan antara feeding disorders pada masa anak-anak dengan eating disorders yang pada umumnya terjadi pada masa remaja, sehingga pada masa transisi ini diperlukan suatu pendekatan yang berbeda baik untuk penilaian maupun penanggulangannya.

Feeding disorders terjadi dalam 6 tahun pertama kehidupan berupa penolakan makanan atau extreme faddiness pada keadaan ada cukup makanan dan tidak ada penyakit organik. Keadaan ini sering ditemukan. Penolakan makan terjadi pada > 20 % anak prasekolah. Tidak seperti pada masa remaja di sini tidak terdapat kecemasan akan kegemukan dan kelainan psikologik maupun prilaku.

Eating disorders (gangguan makan) merupakan suatu sindrom psikiatrik yang ditandai oleh pola makan yang menyimpang yang terkait dengan karakteristik psikologik yang berhubungan dengan makan, bentuk tubuh dan berat badan. Berdasarkan DSM IV ada tiga bentuk gangguan makan yaitu: anoreksi nervosa (AN), bulimia nervosa (BN) dan gangguan makan yang tidak tergolongkan. Dampak gangguan makan pada anak dan remaja tergantung pada berat dan lamanya gangguan makan yang terjadi. Jika gangguan terjadi dalam waktu beberapa hari saja terjadi deplesi energi yang akut tanpa gejala yang nyata, akan tetapi bila berlangsung lama dapat berakibat hambatan pertumbuhan dan perkembangan bahkan .

EPIDEMIOLOGI

Insidens anoreksia nervosa (AN) dan bulimia nervosa (BN) meningkat pada 2 dekade terakhir. Diperkirakan 1 dari 100 wanita berumur 16 – 18 tahun mengalami AN, 25 % terjadi pada umur kurang dari 13 tahun.  Wanita lebih sering mengalami gangguan makan, dengan perbandingan wanita dengan laki-laki 10 : 1. Awalnya gangguan makan tersebut hanya dilaporkan pada golongan sosial ekonomi menengah dan atas, tetapi pada saat ini dilaporkan juga pada golongan sosial ekonomi rendah. Kelainan ini juga ditemukan pada berbagai kelompok etnik dan ras. BN lebih sering dijumpai dari pada AN. Dilaporkan 19 % dari pelajar wanita usia remaja lanjut di Belanda menunjukkan gejala bulimia. Prevalensi BN 1500 kasus dari 100.000 wanita muda. Onset rata-rata kejadian BN pada umur 18 – 19 tahun, kelainan tersebut relatif lebih jarang pada masa remaja awal.

ETIOLOGI

Etiologi gangguan makan belum diketahui, akan tetapi sejumlah faktor dianggap berperan terhadap kelainan ini, faktor-faktor tersebut adalah :

1. Faktor psikososial berupa perkembangan individu, dinamika keluarga, tekanan social untuk berpenampilan kurus serta perjuangan untuk mendapatkan identitas diri 2,4.

2. Faktor genetik: adanya bukti bahwa AN banyak didapat pada penderita dengan riwayat keluarga gangguan depresi dan kecemasan, serta lebih banyak pada kembar monozigot dibandingkan dizigot.

3. Faktor biologik: penurunan sintesis, uptake dan turnover serotonin serta penurunan sensitivitas reseptor serotonin post sinaptik.

 

GAMBARAN KLINIK

Gejala klinik AN yang sering ditemukan berupa:

1. Sangat ingin menjadi kurus, selalu merasa gemuk meskipun berat badannya di bawah ukuran normal berdasarkan umur dan tinggi badan.

2. Merasa segan terhadap makanan, hilangnya nafsu makan, hampir tidak makan sama sekali, pura-pura makan tetapi sebenarnya makanan disembunyikan / dibuang sebelum makan.

3.  Kelelahan, lemah.

4. Serangan bulimia (makan dengan rakus tetapi segera dimuntahkan kembali atau dikeluarkan dengan obat pencahar), dapat terjadi pada beberapa kasus 1,4,5.

5. Gangguan tidur banyak didapatkan pada AN berupa periode RAM (rapid eye movement) yang singkat seperti yang ditemukan pada pasien depresi 1,5.

6. Amenore akibat immaturitas pola sekresi luteinizing hormone.

 

Gejala klinik BN berupa:

1.  Rasa kekhawatiran yang sangat terhadap bertambahnya berat badan.

2.  Siklus banyak makan / minum dengan rakus (makan dalam jumlah yang besar) yang tidak terkontrol dan segera dimuntahkan. Tindakan ini termasuk merangsang diri sendiri agar muntah, menggunakan obat pencahar / diuretik, menahan rasa lapar, diit dengan ketat, atau melakukan latihan secara berlebihan. Siklus ini dapat muncul sekali dalam beberapa minggu, atau beberapa kali sehari pada kasus yang berat 1,5,6.

3. Sakit tenggorokan yang kronik (akibat muntah yang berlebihan) 4,5.

4. Kebiasaan buang air besar tidak teratur (akibat penggunaan obat pencahar yang berlebihan).

5. Biasanya dengan berat badan normal, kecuali yang ada kaitannya dengan AN dapat terjadi penurunan berat badan yang berat.

 

PEMERIKSAAN FISIK DAN PENUNJANG

Pemeriksaan fisik yang diperlukan untuk penderita gangguan makan meliputi pemeriksaan tanda vital, mengukur tinggi dan berat badan penderita dan pemeriksaan status pubertas. Kelainan yang didapat pada pemeriksaan fisik berupa kehilangan berat badan yang nyata, bradikardi, hipotensi postural, hipotermi, penipisan email akibat tumpahan asam lambung, luka pada anus akibat penggunaan pencahar yang berlebihan, kulit dan bibir kering akibat dehidrasi.

Pemeriksaan penunjang yang diperlukan antara lain darah rutin, kadar elektrolit, kadar kalsium dan fosfat serum, pemeriksaan fungsi hati dan tiroid. Pemeriksaan elektrokardiografi dilakukan bila ada gangguan fungsi jantung atau mendapat pengobatan antidepresan.

 

DIAGNOSIS

Dalam menegakkan diagnosis AN dapat digunakan kriteria diagnosis menurut WHO 1992 atau DSM IV. Kriteria AN menurut WHO 1992 sebagai berikut :

1. Penurunan berat badan paling sedikit 15 % dari yang seharusnya atau body mass index (BMI) di bawah 17,5. Penurunan berat badan terjadi akibat perlakuan diri sendiri dengan cara menghindari makanan berlemak, olah raga, muntah atau purgasi.

2. Gangguan pada citra badan (body image), merasa masih gemuk meskipun sudah sangat kurus.

3. Gangguan endokrin pada wanita berupa amenore dan pada pria berupa impotensi dan hilangnya ketertarikan seksual.

4. Jika terjadi pada masa prapubertas, perkembangan pubertas tertunda atau dapat juga tertahan.

 

Menurut DSM IV kriteria AN sebagai berikut 4:

1. Adanya rasa takut menjadi gemuk.

2. Gangguan persepsi pada salah satu dari berat badan, ukuran atau bentuk tubuh.

3. Menolak untuk mempertahankan berat badan lebih dari berat badan normal minimal.

4. Tidak mengalami siklus menstruasi paling sedikit tiga kali secara berturut-turut.

 

Diagnosis BN dapat ditegakkan berdasarkan kriteria WHO 1992 sebagai berikut 1:

1. Terdapat preokupasi yang menetap untuk makan disertai ketagihan (craving) terhadap makanan yang tidak dapat dilawan.

2. Muntah, purgasi atau penggunaan obat-obat seperti amfetamin, obat diit, diuretic dalam upaya untuk mencegah efek akibat makan berlebihan.

3. Gejala psikopatologinya berupa ketakutan yang luar biasa akan kegemukan dan penderita mengatur sendiri batasan yang ketat dari ambang berat badannya, sangat di bawah berat badan sebelum sakit yang dianggap berat badan sehat atau optimal.

 

Menurut DSM IV kriteria BN sebagai berikut :

1. Episode makan berlebihan yang berulang.

2. Selama makan berlebihan ada perasaan takut untuk tidak dapat berhenti makan.

3. Menginduksi diri sendiri secara teratur melalui muntah, pemakaian laksansia, diit ketat atau puasa.

4. Rata-rata minimal 2 kali per minggu episode makan berlebihan dalam minimal 3 bulan.

5. Episode makan berlebihan terjadi pada anak muda dengan berat badan normal atau sedikit gemuk.

 

DIAGNOSIS BANDING

Anoreksia nervosa dan bulimia nervosa harus dibedakan dengan:

1.  Chronic fatique syndrome

Di sini gejala klinik yang timbul mirip anoreksia nervosa berupa kelelahan, iritabilitas dan memisahkan diri dari hubungan sosial, akan tetapi di sini penderita tidak menyangkal bila diberitahu bahwa status gizinya tidak memadai dan memerlukan diit yang lebih baik agar lebih sehat.

2.  Alergi makanan

Alergi makanan seharusnya dipertimbangkan bila telah dilakukan uji eliminasi makanan atau penderita telah didiagnosa oleh dokter ahli alergi.

3.  Depresi

Depresi pada remaja jarang menyebabkan pembatasan diit yang selektif atau penurunan berat badan yang hebat kecuali bila didahului oleh anoreksia nervosa sebelumnya.

4. Kelainan fisik tertentu seperti tumor intrakranial, tirotoksikosis dan defisiensi hormone pertumbuhan.

 

TERAPI

Anoreksia nervosa

Rawat inap di rumah sakit dianjurkan pada pasien-pasien dengan gangguan fisik berat atau pada mereka yang gagal dengan pengobatan rawat jalan. Namun dengan rawat inap pasien sering kehilangan berat badan kembali setelah keluar dari rumah sakit. Pemutusan sosial yang normal dapat memperberat kondisi penderita sehingga keputusan untuk rawat inap harus berdasarkan beberapa pertimbangan sebagai berikut:

1. Keinginan pasien dan keluarganya.

2. Anjuran ahli.

3. Derajat beratnya penyakit.

Program sehari (one-day program) menggabungkan beberapa keuntungan seperti terapi yang intensif, terapi suportif serta terapi prilaku, tanpa mengalami kerugiankerugian rawat inap.

 

Pendekatan terapi berupa:

Parental counseling: Pendekatan ini untuk mengajarkan hal-hal praktis seperti perencanaan makanan, pendidikan dan mengembalikan aktivitas sehari-hari penderita pada orangtua. Terapi keluarga akan sangat bermanfaat bila komunikasi dalam keluarga jelek, pemisahan keluarga (separated family therapy) mungkin lebih efektif dari pada tetap tinggal dalam keluarga (cojoint therapy) terutama pada keluarga-keluarga dengan tingkat emosi tinggi.

Farmakoterapi: Pemberian obat-obatan pada terapi anoreksia nervosa masih mengecewakan. Fluoxetine mungkin dapat mencegah kekambuhan pada pasien-pasien yang telah mencapai berat badan yang diinginkan.

 

Bulimia nervosa

Sebagian besar terapi BN didasarkan pengalaman pada orang dewasa. Banyak penelitian telah mengkonfirmasi efikasi dari psikoterapi dan farmakoterapi yang terutama diberikan secara rawat jalan.

Cognitive Behavioural Therapy (CBT) dan Terapi Interpersonal

CBT dan terapi interpersonal dapat menurunkan kebiasaan makan berlebihan, muntah, serta sikap dan tingkah laku yang menyimpang pada wanita penderita BN.

Antidepresan seperti fluoxetine dan desipramine tampak efektif bila dikombinasi dengan CBT, serta kurang efektif bila diberikan tersendiri.

Terapi keluarga bermanfaat terutama bila terdapat gangguan hubungan keluarga.

 

PROGNOSIS

Dari suatu penelitian jangka panjang pada remaja dengan AN didapatkan 2/3 tidak mengalami gangguan makan setelah 10 tahun kemudian, tetapi 51 % mengalami gangguan psikiatrik 1. BN memiliki prognosis yang lebih baik dari pada AN dan lebih sering mengalami remisi sempurna. Dari suatu penelitian jangka panjang didapatkan bahwa 71 % dari pasien-pasien BN yang mendapatkan terapi intensif dapat mempertahankan hasil terapi lebih dari 6 tahun.

 

PENCEGAHAN

Pencegahan terdiri atas dua bagian:

Program pencegahan primer ditujukan pada populasi berisiko tinggi seperti murid wanita SMP untuk mencegah timbulnya gangguan makan pada mereka yang asimtomatik. Sejumlah program pendidikan telah dicoba berdasarkan asumsi bahwa pengetahuan dapat mengubah sikap dan prilaku, program tersebut ditekankan pada pemahaman tentang citra diri.

Program pencegahan sekunder bertujuan untuk deteksi dan intervensi dini, dengan memberikan pendidikan pada petugas kesehatan di pusat pelayanan kesehatan primer. Dengan intervensi dini morbiditas dapat diturunkan.

 

 

31 ways to make a girl smile

Look What I Have Learned

I have learned -you cannot make someone love you. All you can do is be someone who can be loved. The rest is up to them.

I have learned -no matter how much I care, some people just do not care back.

I have learned -it takes years to build up trust, and only seconds to destroy it.

I have learned -its not what you have in your life but who you have in your life that counts.

I have learned -you can get by on charm for about fifteen minutes. After that, you had better know something.

I have learned -you should not compare yourself to the best others can do.

I have learned -you can do something in an instant which will give you heartache for life.

I have learned -it is taking me a long time to become the person I want to be.

I have learned -you should always leave loved ones with loving  words. It may be the last time you see them.

I have learned -you can keep going long after you think you can not.

I have learned -we are responsible for what we do,no matter how we feel.

I have learned -either you control your attitudeor it controls you.

I have learned -regardless of how hot and steamy a relationship is at first,the passion fades, and there had better be something else to take its place.

I have learned – heroes are the people who do what has to be done when it needs to be done, regardless of the consequences.

I have learned – money is a lousy way of keeping score.

I have learned – my best friend and I can do anything or nothing and have the best time.

I have learned – sometimes, the people you expect to kick you when you are down will be the ones to help you get back up.

I have learned – when I have the right to be angry, it does not give me the right to be cruel.

I have learned – true friendship continues to grow, even over the longest distance. The same is true for true love.

I have learned – just because someone does not love you the way you want them to does not mean they do not love you with all they have.

I have learned – maturity has more to do with what types of experiences you have had and what you have learned from them
and less to do with how many birthdays you have celebrated.

I have learned – you should never tell a child their dreams are unlikely or outlandish. Few things are more humiliating, and what a tragedy it would be if the child believed it.

I have learned – your family will not always be there for you. It may seem funny, but people you are not related to can take care of you and love you and teach you to trust people again. [Families are not biological.]

I have learned – no matter how good a friend is, they are going to hurt you every once in a while and you must forgive them for that.

I have learned – it is not always enough to be forgiven by others. Sometimes you have to learn to forgive yourself.

I have learned – no matter how bad your heart is broken the world does not stop for your grief.

I have learned – our background and circumstances may have influenced who we are, but we are responsible for who we become.

I have learned – just because two people argue, it does not mean they do not love each other; and just because they do not argue,
it does not mean they do love each other.

I have learned – we do not have to change friends if we understand that friends change.

I have learned – you should not be so eager to find out a secret. It could change your life forever.

I have learned – two people can look at the exact same thing and see something totally different.

I have learned – no matter how you try to protect your children, they will eventually get hurt, and you will hurt in the process.

I have learned – your life can be changed in a matter of hours by people who do not even know you.

I have learned – even when you think you have no more to give, when a friend cries out to you, you will find the strength to help.

I have learned – credentials on the wall do not make you a decent human being.

I have learned – the people you care most about in life are taken from you too soon.

I have learned – it is hard to determine where to draw the line between being nice and not hurting people’s feelings and standing up for what you believe.

“Life does not consist mainly, or even largely, of facts and happenings. It consists mainly of the storm of thought that is forever flowing through one’s head.”

KAMUS WANITA

Pria sering menggunakan bahasa “nyata” sedangkan wanita menggunakan bahasa “paradoks” untuk menyebut bahwa kadang apa yang mereka katakan seringkali berbeda dengan apa yang mereka maksud. Kebanyakan pria gagal untuk memahami ini. Kamus ini akan membantu keharmonisa hubungan anda dengan sang kekasih :

1. “Gapapa” = Ada apa-apa

Apabila wanita berkata “Gapapa”/”Tidak apa-apa”, berarti “ada apa-apa”, dan kewajiban sang pria untuk terus menanyakan apa yang terjadi/apa ia sebenarnya rasakan. Pada akhirnya wanita akan luluh dan mengatakan, “Iya nih, sebenarnya gini…dsb. dsb…”

2. “Dia nyebelin…” = Dia menarik

Hati2 apabila kekasih anda mengaku kalau dia didekati pria lain dan pria itu “nyebelin”, pria itu harus dipandang sebagai ancaman pertama pada hubungan anda.. Pada pertama kali anda mendekati sang kekasih, dia juga menyebut anda sebagai pria yang “menyebalkan”…

3. “Sendiri juga bisa koq” = Bantuin, goblog !!

Nah, kalo anda tipe yang krang sensitif, lalu anda menawarkan bantuan pada kekasih yang terlihat agak kesusahan, lalu dia berkata “Gapapa, sendiri juga bisa…”, anda melakukan kesalahan fatal. Jangan pernah bertanya apakah dia mau dibantu atau tidak, langsung aja beraksi !

4. “Bentar aja koq…” = Siap2 utk bosan ya..

Entah mengapa, wanita akan memberikan kata2 halus untuk menempatkan dirinya di atas kaum pria. Kalau dia bilang “Sebentar aja koq… / Bentar lagi” itu berarti perintah kepada anda untuk menunggu, dan jangan pernah complain !

5. “Aku cocoknya pake yang mana…” = Aku pake apa aja pantes kan ?…

Kadang anda dihadapkan pada situasi dimana sang pasangan tengah mencocok2an sepatu atau pakaian yang akan dipakainya. Ia akan meminta pendapat anda “Aku cocoknya pake yang mana?”… Hindarilah memilih, dan katakan “Kamu pakai apa juga terlihat cantik koq sayang…”

6. “Lagi pengen sendiri aja…” = Kangen…

Segera hampiri, jangan lupa bawa makanan kecil dan bunga kalo bisa…

7. “Silakan aja…” = Awas aja kalau berani

Kalau sang kekasih menggunakan kalimat ini, itu berarti dia tidak memberi anda ijin, dan apabila anda tetap bersikukuh, siap2 saja dengan perang dunia III !!

8. “Ke sana jauh gak ya ?” = Anterin gua, goblog !

Saat wanita menerima anda sebagai kekasih, anda secara tidak langsung menandatangani kontrak untuk menjadi ‘supir’ pribadi-nya. Jadi kalau anda masih sulit untuk bisa mobile, pikir2 dulu utk punya kekasih…. hehe

9. “Eh yang, kata kamu sepatu itu bagus gak ?” = Beliin gua napa ?

Saat meminta sesuatu, biasanya wanita tidak akan mengungkapkannya secara langsung. Contohnya “Eh katanya makan disana enak lho” artinya pengen ditraktir. “Film ini bagus lho” artinya ngajak ke bioskop. Tanpa modal yang cukup, hindarilah jalan2 ke tempat dimana kalimat ini akan sering digunakan oleh kekasih anda. Bawa saja kencan ke hutan/kuburan !!

10. “Oke, aku yang salah…” = Dasar pria bebal, egois !!!

Kalimat ini biasa digunakan wanita untuk mengakhiri pertengkaran sekaligus menjaga kehormatannya. Sang wanita ingin agar sang pria menyadari dan mengakui kesalahannya, tapi seringkali pria malah berpikir “Akhirnya dia sadar juga…”.

11. “Aku lagi capek nih” = Aku lagi sibuk, kamu mengganggu saja !!

Tidak perlu penjelasan.. hehe